Peran Penyuluh Agama dalam Upacara Hari Kesadaran Nasional

 





Peran Penyuluh Agama dalam Upacara Hari Kesadaran Nasional

​Pagi ini, udara sejuk pegunungan menyelimuti halaman Kantor Kementerian Agama Cianjur. Gema lagu kebangsaan menggema di antara barisan rapi pegawai yang mengenakan seragam Korpri. Di depan, saya berdiri tegap. Sebagai seorang Penyuluh Agama Islam, tugas saya hari ini adalah memimpin doa dalam upacara Hari Kesadaran Nasional. Ini bukan sekadar upacara rutin, melainkan momen untuk merenungkan kembali arti pengabdian dan integritas dalam melayani umat.

​Setelah amanat pembina upacara selesai, kini giliran saya. Perlahan, saya maju ke mikrofon. Suara saya, yang biasanya digunakan untuk memberikan ceramah di majelis taklim, kini memimpin doa yang merangkul semua harapan. Dalam setiap kalimat yang terucap, saya selipkan makna dari hari kesadaran ini: memohon kepada Allah agar kami semua, para aparatur sipil negara, senantiasa diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk melayani dengan tulus, menjunjung tinggi kejujuran, dan menjauhkan diri dari segala bentuk penyimpangan. Doa ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk bangsa dan negara.

​Mendampingi Calon Jemaah Haji

​Usai upacara, kesibukan tak berhenti. Tanpa membuang waktu, saya segera bergegas menuju mobil. Agenda berikutnya sudah menanti: mendampingi calon jemaah haji ke Kantor Imigrasi Cianjur. Ada sekitar 50 orang yang sudah berkumpul, wajah-wajah mereka memancarkan campuran antara kebahagiaan, harapan, dan sedikit kecemasan. Bagi sebagian besar dari mereka, ini adalah kali pertama mengurus paspor, dokumen yang akan membuka gerbang menuju Tanah Suci.

​Di imigrasi, saya melihat langsung betapa pentingnya peran pendampingan ini. Saya bantu mereka mengisi formulir, memastikan setiap data terisi dengan benar, dan menenangkan ketika ada yang merasa gugup saat sesi foto atau wawancara. Saya jelaskan setiap tahapan proses dengan bahasa yang mudah mereka pahami. "Jangan khawatir, Bapak Ibu. Nanti akan saya pandu," kata saya menenangkan. Senyum dan ucapan terima kasih yang saya terima dari mereka terasa begitu berharga, jauh lebih berharga daripada imbalan materi apa pun.

​Momen seperti ini mengingatkan saya bahwa tugas seorang penyuluh agama bukan hanya sebatas di masjid atau majelis taklim. Lebih dari itu, peran kami meluas hingga ke urusan administratif yang terkadang rumit. Hari ini, saya bersyukur bisa menjadi bagian dari dua momen penting: menguatkan jiwa kebangsaan melalui doa dan mempermudah jalan bagi para tamu Allah. Ini adalah esensi pengabdian yang sesungguhnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alhamdulillah

Perkuat Sinergi, Kemenhaj Gelar Evaluasi dan Pembinaan PPIU-PIHK Menuju Haji & Umrah 2025 yang Berkualitas

  Perkuat Sinergi, Kemenhaj Gelar Evaluasi dan Pembinaan PPIU-PIHK Menuju Haji & Umrah 2025 yang Berkualitas ​ CIANJUR , [Rabu,24/12/20...